A.
Timbulnya Ggl Dan Arus Induksi Pada Transformator
Secara sederhana cara kerja transformator
adalah seperti perputaran tegangan arus bolak balik (AC).
Lebih detailnya
tentang cara kerja ini adalah ketika lilitan primer dihubungkan dengan tegangan
arus bolak balik maka menimbulkan perubahan arus listrik pada lilitan primer
yang mempengaruhi medan magnet. Medan magnet yang telah berubah ini semakin
diperkuat dengan adanya inti besi dan inti besi tersebut menghantarkannya ke
lilitan sekunder. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya ggl induksi pada
masing-masing ujung lilitan sekunder. Efek dari peristiwa ini dinamakan
induktansi timbal balik (mutual inductance). Prinsip kerja ini sama dengan
induksi elektromagnetik dimana kesamaan ini adalah terdapat penghubung magnetik
diantara sisi primer dan sisi sekunder.
Seperti yang telah diungkapkan pada paragraf
pertama bahwa terdapat dua prinsip hukum dalam sebuah cara kerja transformator
yaitu hukum induksi faraday dan hukum Lorenz. Dalam hukum induksi faraday
menjelaskan bahwa gaya listrik melalui garis lengkung yang tertutup berbanding
lurus dengan perubahan persatuan waktu dimana arus induksi dilingkari oleh
lengkungan itu. Sedangkan hukum Lorentz menjelaskan bahwasanya arus bolak balik
yang beredar mengelilingi inti besi berakibat pada berubahnya inti besi
tersebut menjadi magnet. Kemudian apabila magnet tersebut dikelilingi oleh
suatu lilitan, maka lilitan tersebut akan mempunyai perbedaan tegangan pada
kedua ujung lilitannya. Dari kedua hukum ini dapat disimpulkan bahwa baik hukum
induksi faraday maupun hukum Lorenz diterapkan dalam bagaimana transformator
bekerja.
B.
Jenis
dan Fungsi Transfomator
1.
Jenis – Jenis
Transformator
Gambar 4. Lambang transformator step-up
Transformator step-up
adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada
lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator ini
biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang
dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi
jarak jauh.
Gambar 5. Skema transformator step-down
Transformator step-down
memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga
berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah
ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.
Gambar 6. Skema transformator
Transformator jenis ini
hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik, dengan sadapan
tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan
sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus
primer, sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan
kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari
autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih
rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak dapat
memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan
sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik
tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).
d. Autotransformator Variabel
Gambar
7. Skema Autotransformator Variabel
Autotransformator variabel sebenarnya
adalah autotransformator biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah,
memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah.
e.
Transformator
Isolasi
Transformator isolasi
memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan primer, sehingga
tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain,
gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian.
Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk
penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan oleh kopling
kapasitor.
f. Transformator Pulsa
Transformator pulsa
adalah transformator yang didesain khusus untuk memberikan keluaran gelombang
pulsa. Transformator jenis ini menggunakan material inti yang cepat jenuh
sehingga setelah arus primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti
berubah. Karena GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi
perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak
jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.
g. Transformator Tiga Fasa
Transformator tiga fasa
sebenarnya adalah tiga transformator yang dihubungkan secara khusus satu sama
lain. Lilitan primer biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan
sekunder dihubungkan secara delta (Δ).
2. Fungsi Transformator
Transformator(Trafo) adalah sebuah komponen atau alat listrik yang berfungsi
untuk mengubah (menaikkan atau menurunkan) tegangan arus bolak-balik. Terdapat
3 komponen penting pada transformator, yaitu Lilitan atau Kumparan Primer (Np), Inti Besi (core) dan Lilitan
Sekunder (Ns). Lilitan primer berfungsi sebagai penerima tegangan (Vp) dan lilitan sekunder yang nantinya
akan mengeluarkan tegangan
(Vs) sedangkan inti besi berfungsi untuk mengalirkan medan
magnet pada transformator.
C.
Sistem
Transmisi Jaringan Energi Listrik
Pembangkit listrik biasanya dibangun jauh
dari permukiman penduduk. Proses pengiriman daya listrik kepada pelanggan
listrik (konsumen) yang jaraknya jauh disebut transmisi daya listrik jarak
jauh. Untuk menyalurkan energi listrik ke konsumen yang jauh, tegangan yang
dihasilkan generator pembangkit listrik perlu dinaikkan mencapai ratusan ribu
volt. Dalam hal ini transformator
berperan penting. Untuk itu, diperlukan transformator step up. Tegangan
tinggi ditransmisikan melalui kabel jaringan listrik yang panjang menuju
konsumen. Sebelum masuk ke rumah-rumah penduduk tegangan diturunkan menggunakan
transformator step down hingga
menghasilkan 220 V. Transmisi daya listrik jarak jauh dapat dilakukan dengan
menggunakan tegangan besar dan arus yang kecil. Dengan cara itu akan diperoleh
beberapa keuntungan, yaitu energi yang hilang dalam perjalanan dapat dikurangi
dan kawat penghantar yang diperlukan dapat lebih kecil serta harganya lebih
murah. Fungsi sistem jaringan adalah menyalurkan dan
mendistribusikan tenaga listrik dari pusat suplai (gardu induk) ke pusat –
pusat /kelompok beban (gardu trafo/distribusi) dan konsumen dengan mutu
memadai.
Gardu distribusi adalah suatu tempat/
sarana, dimana terdapat transformator step down yaitu transformator yang
menurunkan tegangan dari tegangan menengah menajdi tegangan rendah(sesuai
kebutuhan konsumen). Jaringan distribusi berdasarkan letak jaringan terhadap
posisi gardu distribusi, dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : Jaringan distribusi
primer (jaringan distribusi tegangan menengah). Jaringan distribusi sekunder
(jaringan distribusi tegangan rendah).
Jaringan distribusi primer (JDTM) merupakan
suatu jaringan yang letaknya sebelum gardu ditribusi berfungsi menyalurkan
tenaga listrik bertegangan menengah (misalnya 6 kV atau 20 kV). hantaran dapat
berupa kabel dalam tanah atau saluran/kawat udara yang menghubungkan gardu
induk (sekunder trafo) dengan gardu distribusi atau gardu hubung (sisi primer
trafo didtribusi).
Jaringan distribusi sekunder (JDTR)
merupakan suatu jaringan yang letaknya setelah gardu distribusi berfungsi
menyalurkan tenaga listrik bertagangan rendah (misalnya 220 V/380 V). Hantaran
berupa kabel tanah atau kawat udara yang menghubungkan dari gardu distribusi
(sisi sekunder trafo distribusi) ke tempat konsumen atau pemakai (misalnya
industri atau rumah – rumah).
D.
Aplikasi
Induksi
1.
Microphone
Sekarang
tiba saatnya untuk mengenal lebih dalam mengenai komponen terdepan pada audio-chain,
yaitu microphone. Pada modul keempat ini pembahasan microphone akan
dikhususkan pada aspek karakteristik dan pemilihannya. Sedangkan pada modul
berikutnya,akan dibahas mengenai penggunaan microphone dan isu-isu yang
mungkin timbul terkait dengan penggunaan microphone. Pengenalan microphone
akan sangat membantu karena komponen ini sangat umum dan selalu digunakan
di kebanyakan acara.
a. Karakteristik
Microphone
Ada lima area dari karakteristik yang harus
dipertimbangkan dalam memilih microphone untuk aplikasi-aplikasi
tertentu, yaitu:
1.
Prinsip kerja microphone
2.
Respon frekuensi microphone
3.
Directionality microphone
4.
Output elektrik microphone
5.
Desain fisik microphone
b.
Prinsip
Kerja Microphone: Bagaimana microphone
dapat mengubah suara menjadi sinyal elektrik?
Prinsip kerja dari microphone menjelaskan
tipe transducer yang berada di dalam microphone tersebut. Transducer
adalah sebuah alat yang dapat mengubah energi dari satu bentuk ke bentuk yang
lain. Dalam kaitannya dengan microphone, transducer mengubah energi
akustik (suara) mernjadi energi listrik. Menurut cara kerjanya, ada
banyak tipe microphone, seperti: dynamic, condenser,
ribbon, crystal, carbon, dsb. Namun, ada dua tipe yang paling umum digunakan,
yaitu: dynamic dan condenser.
Dynamic
microphone menggunakan diafragma/voice
coil/susunan magnet yang berfungsi sebagai generator/pembangkit sinyal listrik
yang di-drive oleh suara yang masuk. Gelombang suara menabrak sebuah
membran plastik tipis yang disebut diafragma sehingga diafragma tersebut
bergetar. Sebuah kumparan kawat kecil (voice coil) ditempelkan pada
bagian belakang diafragma dan sama-sama ikut bergetar juga ketika diafragma
bergetar. Voice coil dikelilingi oleh medan magnet yang tercipta oleh
sebuah magnet permanen kecil. Pergerakan voice coil di medan magnet ini
akan mengakibatkan terbentuknya sinyal elektrik. Dynamic mic memiliki
konstruksi yang sederhana dan juga termasuk ekonomis. Di samping itu, dynamic
mic juga tidak terlalu terpengaruh oleh temperatur yang esktrim atau
kelembaban dan dapat mengakomodasi SPL yang cukup tinggi tanpa overload.
Meskipun demikian, respon frekuensi dan sensitivitas dari dynamic mic terbatas,
khususnya pada frekuensi tinggi. Dynamic mic merupakan tipe yang sangat
umum digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk di dalam sound system gereja.
Dynamic mic tidak dapat dibuat dalam bentuk yang kecil tanpa mengurangi
sensitivitasnya. Condenser
microphone bekerja berdasarkan
diafragma/susunan backplate yang mesti tercatu oleh listrik membentuk soundsensitive
capacitor. Gelombang suara yang masuk ke microphone menggetarkan komponen
diafragma ini. Diafragma ditempatkan di depan sebuah backplate. Susunan
elemen ini membentuk kapasitor yang biasa disebut juga kondenser. Kapasitor
memiliki kemampuan
untuk menyimpan muatan atau tegangan. Ketika elemen tersebut terisi muatan,
medan listrik terbentuk di antara diafragma dan backplate, yang besarnya
proporsional terhadap ruang
(space) yang terbentuk diantaranya. Variasi dari lebar space antara
diafragma dan backplate terjadi karena pergerakan diafragma relatif terhadap
backplate sebagai akibat dari adanya tekanan suara yang mengenai diafragma. Hal
ini menghasilkan sinyal elektrik sebagai akibat dari suara yang masuk ke condenser
microphone.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kerja condenser
mic memerlukan muatan listrik. Terkait dengan hal tersebut, ada tipe condenser
mic yang memiliki muatan permanen, ada juga yang menggunakan sumber catu
daya eksternal untuk mengisi muatannya. Dalam hal ini, sumber catu daya
eksternal yang digunakan dapat berasal dari baterai, atau dari “phantom” power
(sebuah metode untuk memberikan daya kepada microphone melalui kabel mic
tersebut, dayanya berasal dari mixer). Jika dibandingkan terhadap dynamic
mic, condenser mic lebih kompleks dan lebih mahal. Condenser
dapat dibuat dengan sensitivitas yang lebih tinggi dan dapat menghasilkan suara
yang lebih smooth, lebih natural, khususnya pada frekuensi
tinggi. Dengan kondenser, lebih mudah untuk mencapai respon frekuensi flat dan
memiliki range frekuensi yang lebih luas. Satu hal lagi yang membedakan
dari dynamic mic adalah condenser mic dapat dibuat sangat kecil
tanpa banyak mengurangi kinerjanya. Keputusan untuk menggunakan condenser atau
dynamic mic bagaimanapun diambil tidak hanya berdasarkan sumber suara,
tetapi berdasarkan physical setting juga. Praktisnya, penggunaan microphone
harus memperhatikan untuk acara apa dan dimana mic tersebut akan
digunakan. Di samping itu, apakah diinginkan hasil dengan kualitas suara yang
sangat tinggi atau tidak.
E.
Induktansi
Diri dan Induktansi Mutual (Bersama)
Pengertian
Induktor, dalam pengukuran sebuah lilitan atau kumparan tidak dapat dipisahkan
dengan istilah induktansi, karena induktansi merupakan satuan pengukuran sebuah
kumparan (dilambangkan dengan L). Induktor atau reaktor adalah sebuah komponen
elektronika pasif (kebanyakan berbentuk torus) yang dapat menyimpan energi pada
medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melintasinya.
Kemampuan
induktor untuk menyimpan energi magnet ditentukan oleh induktansinya, dalam
satuan Henry. Biasanya sebuah induktor adalah sebuah kawat penghantar yang
dibentuk menjadi kumparan, lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat
didalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah salah satu
komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan
tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus
bolak-balik.
Sebuah
induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi,
dan tidak memboroskan daya. Sebuah induktor pada kenyataanya merupakan gabungan
dari induktansi, beberapa resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa
kapasitansi. Pada suatu frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi
karena kapasitas parasitnya. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat,
induktor berinti magnet juga memboroskan daya didalam inti karena efek
histeresis, dan pada arus tinggi mungkin mengalami nonlinearitas karena
penjenuhan. Induktansi (L) (diukur dalam Henry) adalah efek dari medan magnet
yang terbentuk disekitar konduktor pembawa arus yang bersifat menahan perubahan
arus. Arus listrik yang melewati konduktor membuat medan magnet sebanding
dengan besar arus. Perubahan dalam arus menyebabkan perubahan medan magnet yang
mengakibatkan gaya elektromotif lawan melalui GGL induksi yang bersifat
menentang perubahan arus. Induktansi diukur berdasarkan jumlah gaya
elektromotif yang ditimbulkan untuk setiap perubahan arus terhadap waktu.
Sebagai contoh, sebuah induktor dengan induktansi 1 Henry menimbulkan gaya
elektromotif sebesar 1 volt saat arus dalam indukutor berubah dengan kecepatan
1 ampere setiap sekon. Jumlah lilitan, ukuran lilitan, dan material inti
menentukan induktansi.
Induksi
listrik itu adalah fenomena fisika yang apabila pada suatu benda yang tadinya
netral atau (tidak bermuatan listrik) menjadi bermuatan listrik karena akibat
adanya pengaruh dari gaya listrik atau dari benda yang bermuatan lain dan
didekatkan padanya.
Ada dua jenis induktansi, yaitu:
1.
Induktansi
diri
Konsep
induktansi juga berlaku pada kumparan tunggal yang terisolasi. Jika arus
berubah melewati suatu kumparan atau solenoida terjadi perubahan flux magnetic
di dalam kumparan, dan ini akan menginduksi ggl pada arah yang berlawanan. Jika
arus pada kumparan berkurang, pengurangan flux akan menginduksi ggl dengan arah
arus yang sama, sehingga cenderung mempertakankan nilai kuat arus semula. Rumus
ggl induksi adalah sebagai berikut:
Dimana
konstanta pembanding L disebut induktansi-diri, atau cukup disebut induktansi
kumparan
dengan satuan henry. Besarnya induktansi bergantung geometri dan ada tidaknya
inti
besi. Suatu rangkaian AC selalu mengandung
induktansi tetapi biasanya kecil kecuali jika
rangkaian
tersebut menggunakan kumparan dengan jumlah lilitan yang banyak. Sebuah
kumparan
yang mempunyai induktansi diri disebut inductor atau kumparan penahan.
Induktansi
sangat bermanfaat pada rangkain tertentu namun kadang-kadang dilakukan
pencegahan
timbulnya induktansi. Induktansi dapat dikurangi dengan malilitkan kawat
berisolasi
pada arah berlawanan sehingga arus yang mengalir pada dua arah itu akan saling
mengilangkan
dan menghasilkan sedikit flux magnet yang dinamakan kumparan noninduktif.
2.
Induktansi
Bersama
Jika dua
buah kumparan berdekatan dengan yang lain terjadi perubahan arus pada salah
satu kumparan yang akan mereduksi ggl pada kumparan yang lain. Menurut hukum
Faraday, ggl
yang diinduksi ke kumparan 2 sebanding
dengan laju perubahan fluks yang melewatinya. Karena fluks sebanding dengan
arus yang melewati kumparan 1,
harus sebanding dengan laju perubahan arus
pada kumparan 1
, sehingga:
dengan konstanta pembanding M yang
disebut induktansi bersama. Tanda minus dari hukum Lentz.

Jika melihat situasi kebalikannya,
yaitu perubahan arus di kumparan 2 menginduksi ggl pada kumparan 2, konstanta
pembandingnya, M, akan meiliki nilai yang sama, sehingga:
Satuan M adalah :
.
Contoh induktansi bersama adalah
transformator , dimana hubungan kedua kumparan dimaksimalkan sehingga hampir
seluruh garis fluks melewati kedua kumparan.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kelistrikan dapat menghasilkan kemagnetan.
Kemagnetan dan kelistrikan merupakan dua gejala alam yang prosesnya dapat dibolak-balik.
H.C.Oersted membuktikan bahwa di sekitar kawat berarus listrik terdapat medan
magnet. (artinya listrik menimbulkanmagnet). Tahun
1821 Michael Faraday membuktikan bahwa perubahan medan magnet dapat menimbulkan
arus listrik (artinya magnet menimbulkan listrik). GGL
induksi dapat terjadi pada kedua ujung kumparan jika didalam kumparan terjadi perubahan
jumlah garis-garisgaya magnet (fluksmagnetik). GGL yang timbul akibat adanya perubahan
jumlah garis-garis gaya magnet dalam kumparan disebut GGL induksi. Induktansi
adalah ukuran kemampuan sebuah induktor untuk membangkitkan suatu tegangan
induksi sebagai akibat dari perubahan arus yang mengalir pada inductor.
B.
SARAN
Penulis menyadari
bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan pada isi yang dimuat.
Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca khususnya
civtistas akademika progran studi fisika, dan pada umumnya seluruh pembaca agar
karya tulis atau makalah ini dapat menjadi lebih sempurna dan lebih bermanfaat
bagi semuanya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar