Assalamualikum warahmatullahi
wabarokatuh
Begitu
meriahnya malam tahun baru, hingga seluruh dunia pun merayakannya. Malam tahun
baru adalah malam pergantian tahun pada
kalender masehi.
muasal
tahun baru 1 Januari jelas dari praktik penyembahan kepada dewa matahari kaum
Romawi. Kita ketahui semua perayaan Romawi pada dasarnya adalah penyembahan
kepada dewa matahari yang disesuaikan dengan gerakan matahari.
Sebagaimana
yang kita ketahui, Romawi yang terletak di bagian bumi sebelah utara mengalami
4 musim dikarenakan pergerakan matahari. Dalam perhitungan sains masa kini yang
juga dipahami Romawi kuno, musim dingin adalah pertanda ’mati’ nya matahari
karena saat itu matahari bersembunyi di wilayah bagian selatan khatulistiwa.
Sepanjang
bulan Desember, matahari terus turun ke wilayah bahagian selatan khatulistiwa
sehingga memberikan musim dingin pada wilayah Romawi, dan titik tterjauh
matahari adalah pada tanggal 21-22 Desember setiap tahunnya. Lalu mulai naik
kembali ketika tanggal 25 Desember. Matahari terus naik sampai benar-benar
terasa sekitar 6 hari kemudian.
Karena
itulah Romawi merayakan rangkaian acara ’Kembalinya Matahari’ menyinari bumi
sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut
kembali dewa panen) pada tanggal 23 Desember. Lalu perayaan kembalinya Dewa
Matahari (Sol Invictus)
pada tanggal 25 Desember sampai tanggal 1-5 Januari yaitu Perayaan Tahun
Baru (Matahari Baru). Orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan
berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji penuh nafsu
kebinatangan diumbar disana. Persis seperti yang terjadi pada saat ini.
Ketika
Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama
Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai
hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru dan Bahkan perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak
perayaan dan simbol serta ritual lain yang diadopsi.
Bahkan
untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa
Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari
setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama
’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The
Circumcision Feast of Jesus).
Dalam
pandangan penulis perayaan tahun baru adalah hal yang sia-sia dan berdampak
pada lingkungan bumi. Pada saat perayaan tahun baru kebanyakan dimeriahkan oleh
kembang api, apa yang terjadi setelah kembang api tersebut meletus? Kembang api
tersebut akan menimbulkan asap, dengan jumlah kembang api yang banyak maka asap
yang yang ditimbulkan pula semakin banyak. Hal ini akan menyebabkan polusi
udar, bahkan dapat menyebabkan polusi suara. Selain itu, ketiadagunaan dari
hal tersebut. Biasa pemerintah memberikan anggaran yang tidak sedikit untuk
kegiatan ini, padahal warganegaranya masih banyak yang kekurangan. Bukankah ini
hal yang mubazir? Yah pasti mubazir, bukankah lebih baik untuk membantu atau
memberikan kesejahteraan kepada masyarakat yang membutuhkan dari pada untuk berfoya-foya. Ini lah kekeliruan pada zaman sekarang.
Lalu
bagaimana pandagan agama islam mengenai hal ini?
Pandangan Islam terhadap Perayaan Tahun
Baru
’Ala kulli hal, yang ingin kita
sampaikan disini adalah bahwa ’Perayaan Tahun Baru’ dan derivatnya bukanlah
berasal dari Islam. Bahkan berasal dari praktek pagan Romawi yang dilanjutkan
menjadi perayaan dalam Kristen. Dan mengikuti serta merayakan Tahun baru adalah
suatu keharaman di dalam Islam.
Dari segi budaya dan gaya hidup, perayaan tahun
baruan pada hakikatnya adalah senjata kaum kafir imperialis dalam menyerang
kaum muslim untuk menyebarkan ideologi setan yang senantiasa mereka emban yaitu
sekularisme dan pemikiran-pemikiran turunannya seperti pluralisme,
hedonisme-permisivisme dan konsumerisme untuk merusak kaum muslim, sekaligus
menjadi alat untuk mengeruk keuntungan besar bagi kaum kapitalis.
Serangan-serangan pemikiran yang dilakukan barat
ini dimaksudkan sedikitnya pada 3 hal yaitu (1) menjauhkan kaum muslim dari
pemikiran, perasaan dan budaya serta gaya hidup yang Islami, (2) mengalihkan
perhatian kaum muslim atas penderitaan dan kedzaliman yang terjadi pada diri
mereka, dan (3) menjadikan barat sebagai kiblat budaya kaum muslimin khususnya
para pemuda.
Ketiga hal tersebut jelas terlihat pada perayaan
tahun baru yang dirayakan dan dibuat lebih megah dan lebih besar daripada hari
raya kaum muslimin sendiri. Tradisi barat merayakan tahun baru dengan berpesta
pora, berhura-hura diimpor dan diikuti oleh restoran, kafe, stasiun televisi dan
pemerintah untuk mangajarkan kaum muslimin perilaku hedonisme-permisivisme dan
konsumerisme.
Kaum muslim dibuat bersenang-senang agar mereka
lupa terhadap penderitaan dan penyiksaan yang terjadi atas saudara-saudara
mereka sesama muslim. Dan lewat tahun baruan ini pula disiarkan dan
dipropagandakan secara intensif budaya barat yang harus diikuti seperti pesta
kembang api, pesta minum minuman keras serta film-film barat bernuansa
persuasif di televisi.
Semua hal tersebut dilakukan dengan bungkus yang
cantik sehingga kaum muslimin kebanyakan pun tertipu dan tanpa sadar mengikuti
budaya barat yang jauh dari ajaran Islam. Anggapan bahwa tahun baru adalah
“hari raya baru” milik kaum muslim pun telah wajar dan membebek budaya barat
pun dianggap lumrah.
”Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru)
tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu
anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan
masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang
Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR
Bukhari dan Muslim)
Walhasil, kaum secara i’tiqadi dan
secara logika seorang muslim tidak layak larut dan sibuk dalam perayaan haram
tahun baruan yang menjadi sarana mengarahkan budaya kaum muslim untuk mengekor
kepada barat dan juga membuat kaum muslimin melupakan masalah-masalah yang
terjadi pada mereka.
Oleh karena itu kita sebagaimana orang yang
berilmu dan berpengetahuan, hendaknya kita fikirkan manfaat dan faedahnya. Jangan
hanya mengikuti trend semata dan padahal hal tersebut kurang benar.
baca juga: bahaya kembang api
dan untuk memberikan kontribusi kepada penulis, silahkan klik iklan pada blog ini.
dan untuk memberikan kontribusi kepada penulis, silahkan klik iklan pada blog ini.
wassalamualaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar