BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai
tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu
terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat
siswa mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang
dipelajari oleh siswa berupa keadan alam, benda-benda atau hal-hal yang
dijadikan bahan belajar.
Tindakan belajar dari suatu hal tersebut nampak sebagai perilaku belajar
yang nampak dari luar. Pengertian dari belajar sangat beragam, banyak dari para
ahli yang mengartikan secara berbeda-beda definisi dari belajar. Sebagaimana
kita ketahui bahwa belajar merupakan hal yang penting dalam bidang pendidikan.
Tentu saja dalam proses belajar terdapat teori – teori yang memunculkan adanya
belajar.
Dari zaman dahulu, para ilmuwan terus mengembangkan teori – teori belajar
sebagai temuan mereka untuk mengembangkan pemikiran belajar mereka. Era
globalisasi telah membawa berbagai perubahan yang memunculkan adanya teori –
teori belajar yang baru guna menyempurnakan teori – teori yang telah ada
sebelumnya. Akan tetapi, kita sebagai insan tak bisa bertolak dengan adanya
teori belajar yang telah ada sebelumnya. Adapun teori belajar selalu bertolak
dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu.
Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Dengan bermunculnya teori – teri yang baru akan menyempurnakan teori – teori yang sebelumnya. Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil manfaat dengan adanya teori tersebut. tentunya setiap teori belajar memiliki keistimewaan tersendiri. Bahkan, tak jarang dalam setiap teori belajar juga terdapat kritikan – kritikan untuk penyempurnaan teori tersebut. dalam hal ini, penulis akan mengkaji salah teori belajar pengolahan informasi.
Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Dengan bermunculnya teori – teri yang baru akan menyempurnakan teori – teori yang sebelumnya. Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil manfaat dengan adanya teori tersebut. tentunya setiap teori belajar memiliki keistimewaan tersendiri. Bahkan, tak jarang dalam setiap teori belajar juga terdapat kritikan – kritikan untuk penyempurnaan teori tersebut. dalam hal ini, penulis akan mengkaji salah teori belajar pengolahan informasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Pengolahan
Informasi
Pengolahan informasi mengandung pengertian tentang bagaimana seorang
individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi
yang diterima individu dari lingkungan. Hal yang demikian juga dapat dikatakan
bahwa penggolahan informasi dapat dikatakan sebagai bagaimana respon individu
terhadap informasi yang di berikan oleh lingkungan di sekitarnya.
baca juga makalah profesi pendidikan antara profesi dan pekerjaan
baca juga makalah profesi pendidikan antara profesi dan pekerjaan
Pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah
psikologi kognitif. Dimana dalam ranah psikologi kognitif ini sebagai upaya
untuk memahami mekanisme dasar yang mengatur cara berpikirnya orang. Dalam
teori pengolahan informasi memiliki sutu perbedaan dengan teori belajar yaitu
pada derajat penekanan pada soal belajar. Teori pengolahan informasi tidak
memberlakukan belajar sebagai titik pusat penelitian yang utama melainkan juga
melihat sisi lainnya, seperti pada informasi yang diperoleh ataupun melihat
kemampuan memori seorang individu.
Namun demikian, penelitian pengolahan informasi memberikan sumbangan atas pengertian proses belajar. Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa antara belajar dan pengolahan informasi adalah dua aspek yang saling melengkapi.
Namun demikian, penelitian pengolahan informasi memberikan sumbangan atas pengertian proses belajar. Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa antara belajar dan pengolahan informasi adalah dua aspek yang saling melengkapi.
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan
faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil
kumulatif dari pembelajaran. Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi,
antropologi dan ilmu komputer, dikembangkan model berpikir. Pusat kajiannya
pada proses belajar dan meng-gambarkan cara individu memanipulasi simbol dan
memproses informasi. Model belajar pemrosesan informasi disajikan melalui skema
berikut ini. Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model
kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga
taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1. Sensory
atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register,
tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem,
informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di
long-term memory.
2. Working
memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di
sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas
kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3. Long-term
memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu
menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya
adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses
kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi
mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (materi memory
atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
B. Sistem Memori
Manusia
Konsepsi lama tentang memori manusia adalah bahwa memori itu semata-mata
hanya tempat penyimpanan informasi dalam waktu yang lama. Jadi memori adalah
koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas dan tidak saling
berkaitan.Berdasar penjelasan-penjelasan tersebut kita dapat berpandangan bahwa
memori itu adalah sebuah wadah yang berisi data-data, dimana data-data tersebut
belum tentu saling berkaitan.
Di mulai tahun 1960-an memori manusia dipandang sebagai suatu struktur yang rumit untuk mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan,. Ada juga yang mengatakan memori adalah merupan gudang yang pasif, tetapi merupakan suatu yang aktif memilih data penginderaan mana yang akan di olahnya, mengubah data data menjadi informasi yang bermakna dan menyimpan infotmasi itu untuk digunakan di waktu kemudian. Hal ini berarti memori juga dapat dikatankan sebagai suatu alat yang berfungsi untuk menangkap, mengolah dan menggunakannya di lain waktu ketika di butuhkan. Memori merupakan suatu sistem yang rumit dengan banyak tahapannya dan saling berinteraksi. Ini berarti dalam memori terdapat interaksi-interaksi antara data-data dan lapisan-lapisan atau tahapan-tahapan yang ada di dalamnya.
Sebagian besar model-model yang dikembangkan tahun 1960-an mengajukan tiga struktur memori yaitu:
Di mulai tahun 1960-an memori manusia dipandang sebagai suatu struktur yang rumit untuk mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan,. Ada juga yang mengatakan memori adalah merupan gudang yang pasif, tetapi merupakan suatu yang aktif memilih data penginderaan mana yang akan di olahnya, mengubah data data menjadi informasi yang bermakna dan menyimpan infotmasi itu untuk digunakan di waktu kemudian. Hal ini berarti memori juga dapat dikatankan sebagai suatu alat yang berfungsi untuk menangkap, mengolah dan menggunakannya di lain waktu ketika di butuhkan. Memori merupakan suatu sistem yang rumit dengan banyak tahapannya dan saling berinteraksi. Ini berarti dalam memori terdapat interaksi-interaksi antara data-data dan lapisan-lapisan atau tahapan-tahapan yang ada di dalamnya.
Sebagian besar model-model yang dikembangkan tahun 1960-an mengajukan tiga struktur memori yaitu:
1. Pencatatan
penginderaan (Sensoric Memori)
Rangsangan yang diterima oleh indera yang kemudian akan diteruskan
sebagai informasi ke sistem memori selanjutnya. Informasi yang terdapat pada
stimulus atau rangsangan dari luar akan diterima manusia melalui panca
inderanya. Informasi tersebut akan tersimpan di dalam ingatan selama tidak
lebih dari satu detik saja. Ingatan tersebut akan hilang lagi tanpa disadari
dan akan diganti dengan informasi lainnya. Ingatan sekilas atau sekelebat yang
didapat melalui panca indera ini biasanya disebut ’sensory memory’ atau
‘ingatan inderawi’. Berdasar pada apa yang dipaparkan di atas, dapatlah
disimpulkan bahwa, seperti yang telah sering dialami para guru dan telah
dinyatakan dua orang siswa di bagian awal tulisan ini, pesan atau keterangan
yang disampaikan seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan para siswa
jika pesan atau keterangan tersebut terkategori sebagai pencatatan pengideraan.
Alasanya, seperti sudah dipaparkan tadi, pencatatan pengideraan hanya dapat
bertahan di dalam pikiran manusia selama tidak lebih dari satu detik saja.
2. Penyimpanan
Jangka Pendek (working memory)
yaitu Suatu informasi baru yang mendapat perhatian siswa, tentunya akan
berbeda dari informasi yang tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Suatu
informasi baru yang mendapat perhatian seorang siswa lalu terkategori sebagai
penyimpanan jangka pendek. Jelaslah bahwa penyimpanan jangka pendek adalah
setiap Ingatan Inderawi yang stimulusnya mendapat perhatian dari seseorang.
Dengan kata lain, penyimpanan jangka pendek tidak akan terbentuk di dalam otak siswa tanpa adanya perhatian dari siswa terhadap informasi tersebut. Penyimpanan jangka pendek ini dapat bertahan relatif jauh lebih lama lagi, yaitu sekitar 20 detik. Sebagai akibatnya, pengetahuan tentang perbedaan antara kedua ingatan ini lalu menjadi sangat penting untuk diketahui para guru dan diharapkan akan dapat dimanfaatkan selama proses pembelajaran di kelasnya. Sekali lagi, perhatian para siswa terhadap informasi atau masukan dari para guru akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang disampaikan para guru tersebut. Karenanya, untuk menarik perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan, di samping selalu memotivasi siswanya, seorang guru pada saat yang tepat sudah seharusnya mengucapkan kalimat seperti: “Anak-anak, bagian ini sangat penting.” Tidak hanya itu, aksi diam seorang guru ketika siswanya ribut, mencatat hal dan contoh penting di papan tulis, memberi kotak ataupun garis bawah dengan kapur warna untuk materi essensial, menyesuaikan intonasi suara dengan materi, memukul rotan ke meja, sampai menjewer telinga merupakan usaha-usaha yang patut dihargai dari seorang guru selama proses pembelajaran untuk menarik perhatian siswanya. Namun hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menumbuhkan kemauan dan motivasi dari dalam diri siswa sendiri, sehingga para siswa akan mau belajar dan memperhatikan para gurunya selama proses pembelajaran sedang berlangsung.
Dengan kata lain, penyimpanan jangka pendek tidak akan terbentuk di dalam otak siswa tanpa adanya perhatian dari siswa terhadap informasi tersebut. Penyimpanan jangka pendek ini dapat bertahan relatif jauh lebih lama lagi, yaitu sekitar 20 detik. Sebagai akibatnya, pengetahuan tentang perbedaan antara kedua ingatan ini lalu menjadi sangat penting untuk diketahui para guru dan diharapkan akan dapat dimanfaatkan selama proses pembelajaran di kelasnya. Sekali lagi, perhatian para siswa terhadap informasi atau masukan dari para guru akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang disampaikan para guru tersebut. Karenanya, untuk menarik perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan, di samping selalu memotivasi siswanya, seorang guru pada saat yang tepat sudah seharusnya mengucapkan kalimat seperti: “Anak-anak, bagian ini sangat penting.” Tidak hanya itu, aksi diam seorang guru ketika siswanya ribut, mencatat hal dan contoh penting di papan tulis, memberi kotak ataupun garis bawah dengan kapur warna untuk materi essensial, menyesuaikan intonasi suara dengan materi, memukul rotan ke meja, sampai menjewer telinga merupakan usaha-usaha yang patut dihargai dari seorang guru selama proses pembelajaran untuk menarik perhatian siswanya. Namun hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menumbuhkan kemauan dan motivasi dari dalam diri siswa sendiri, sehingga para siswa akan mau belajar dan memperhatikan para gurunya selama proses pembelajaran sedang berlangsung.
3. Penyimpanan
Jangka Panjang (Long Term Memory)
Suatu proses penyimpanan informasi yang permanen. Memori jangka panjang
ini berasal dari memori jangka pendek yang selalu diulang-ulang dan berkesan
bagi individu sehingga informasi yang ia terima dapat bersifat permanen dan
bila suatu saat ia butuhkan maka akan teringat lagi. Informasi yang sudah
tersimpan di dalam penyipanan jangka panjang ini sulit untuk hilang, sehingga
dapat diingat dengan mudah. Jelaslah bahwa penyimpanan jangka panjang adalah
penyimpanan jangka pendek yang mendapat pengulangan. Kata lainnya kata lainnya
penyimpanan jangka panjang tidak akan terbentuk tanpa adanya pengulangan.
Dapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata kunci
dalam proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di kelas atau di rumah
merupakan kata kunci yang akan sangat menentukan keberhasilan atau ketidak
berhasilan suatu pengetahuan yang diingat dalam jangka waktu yang lama. Itulah
sebabnya, ada guru berpengalaman yang menyatakan kepada siswanya bahwa akan
jauh lebih baik untuk belajar 6 × 10 menit daripada 1 × 60 menit. Selain
pengulangan atau latihan, beberapa hal penting yang harus diperhatikan Bapak
dan Ibu Guru agar suatu pengetahuan dapat diingat siswa dengan mudah adalah:
1.
Sesuatu yang sudah dipahami akan lebih mudah diingat
siswa dari pada sesuatu yang tidak dipahaminya. Contohnya, proses untuk
mengingat bilangan 17.081.945 akan jauh lebih mudah daripada proses mengingat
bilangan 51.408.791 karena bilangan pertama sudah dikenal para siswa, apalagi
jika dikaitkan dengan hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 yang dapat
ditulis menjadi 17–08–1945.
2.
Hal-hal yang sudah terorganisir dengan baik akan jauh
lebih mudah diingat siswa daripada hal-hal yang belum terorganisir. Contohnya,
mengingat susunan bilangan 4, 49, 1, 16, 9, 36, dan 25 akan jauh lebih sulit
daripada mengingat bilangan berikut yang sudah terorganisir dengan baik: 1, 4,
9, 16, 25, 36, dan 49.
3.
Sesuatu yang menarik perhatian siswa akan lebih mudah
diingat daripada sesuatu yang tidak menarik hatinya. Acara televisi yang
menarik perhatian para siswa akan memungkinkan para siswa untuk duduk
berjam-jam di depan TV dan jalan ceriteranya akan mampu mereka ingat dengan
mudah. Namun hal yang sebaliknya akan terjadi juga, yaitu suatu proses
pembelajaran yang tidak menarik perhatian mereka dapat menjadi beban bagi siswa
dan tentunya juga bagi para guru.
C. Komponen Belajar
Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar ada tiga tahapan
yaitu: 1) mengarahkan perhatian ke stimulus 2) mengkode stimulus 3) penyimpanan
dan pemanggilan informasi.
1. Perhatian
ke stimulus
Pengolahan sistem informasi dalam memori manusia diawali ketika isyarat
fisik diterima pencatat sensori melalui indera (visual, audio maupun kenestik
). Isyarat fisik ini disimpan sebenta di sebut ikon dan memori audio disebut
peniru bunyi (echo). Jenis retensi isyarat yang ke tiga disebut taktil atau
haptik, untuk retensi ini belum banyak penelitian yang di lakukan. Peranan
perhatian ada dua peran perhatian dalam sistem pengolahan informasi yaitu:
a.
pengolahan informasi secara otomatik, peran perhatian
terhadaap hal-hal yang sudah sedemikian luasnya sehingga berlangsung tanpa
kendali secara sadar dan tidak memerlukan perhatian khusus. Misalnya pengenalan
pola-pola yang sudah diketahui seperti pola perkalian 1 x 10. B) pros
deliberate,
b.
peranan perhatian untuk mengolah informasi yang
memerlukan usaha sadar yang dilakukan secara terkosentrasi, yaitu untuk
mengenal informasi yang diperlukan untuk pola-pola yang belum diketahui (baru).
2. Mengkode
stimulus
Apakah stimulus akan diolah sebagai informasi aktif atau akan lebih
lanjut atau tidak sampai memori jangka panjang sebagai memori inaktif, maka di perlukan
pengkodean yaitu mengubah stimulus sehingga dapat di simpan sehingga pada waktu
lain dapat dimunculkan kembali dengan mudah. Ada dua cara pengkodean yaitu:
gladi pelihara atau gladi primer dan gladi elaboratif. Pengulangan terhadap
informasi yang ingin diingat ini adalah salah satu contoh gladi pelihara.
Kebalikannya gladi elaboratif adalah mengubah melalui berbagai cara yaitu:
a.
diganti dengan lambang lain (subsitusi)
b.
dilengkapi dengan informasi tambahan untuk memudahkan
mengingatnya.
Contoh mengenai hal tersebut seperti pada hal di bawah ini: Mengasosiasikan pohon korma (informasi baru) dengan pohon korma sawit (informasi lama) ini adalah contoh gladi elaboratif.
Contoh mengenai hal tersebut seperti pada hal di bawah ini: Mengasosiasikan pohon korma (informasi baru) dengan pohon korma sawit (informasi lama) ini adalah contoh gladi elaboratif.
3. Penyimpanan
dan retrival
Pengkodean dimaksudkan untuk menyimpan informasi guna disimpan dalam
memori jangka panjang untuk dapat di ingat kembali sewaktu-waktu diperlukan.
Untuk proses ini sangat bergantung bagai mana informasi itu disimpan dan
bagaimana hubungan informasi itu dengan informasi sebelumnya dari memori jangka
panjang. Gladi pelihara dan gladi elaboratif ke duanya dapat membantu individu
dalam mengingat informasi dalam waktu yang akan datang. Sistem mnemonik adalah
cara untuk memudahkan kembali meliputi: akronim, catatan, kartu pengisyaratan,
titian ingatan, penggunaan kata-kata frase untuk mengingat not-not yang
terletak pada garis-garis paranada dan seterusnya.
D. Aplikasi
Teori Pengolahan Informasi Dalam Belajar
Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar berasumsi bahwa
meemori manusia itu suatu sistem yang aktif, yang mampu menyeleksi,
mengorganisasi dan mengubah menjadi suatu sandi-sandi informasi dan
keterampilanbagi penyimpananya untuk di pelajari. Dalam hal ini individu
diartikan sebagai suatu objek yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan suatu
penyleksian, pengorganisasian danpengubahan terhadap informasi yang di dapat
menjadi suatu sandi-sandi yang berguna untuk memudahkan individu dalam proses
belajar yang akan dijalani dirinya.
Mengenai hal di atas, para ahli kognitif juga berasumsi bahwa belajar
yang berhasil sangat bergantung pada tindakan belajar daripada hal-hal yang ada
di lingkungannya. Ini menunjukan bahwa dalam proses belajar ini tindakan dari
peserta didik adalah hal utama yang mempengaruhi terhadap hasil belajar yang
akan di capai dari peserta didik, dalam hal ini menyangkut aspek perubahan
perilaku seperti: aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Komponen belajar menurut teori pengolahan informasi seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan di atas, bahwakomponen belajar adalah perhatian yang ditujukan pada stimulus, pengkodean stimulus, dan penyimpanan dan mendapatkan kembali (retrival). Atas dasar komponen dasar tersebut, selanjutnya hal yang esensial dari pembelajaran adalah
Komponen belajar menurut teori pengolahan informasi seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan di atas, bahwakomponen belajar adalah perhatian yang ditujukan pada stimulus, pengkodean stimulus, dan penyimpanan dan mendapatkan kembali (retrival). Atas dasar komponen dasar tersebut, selanjutnya hal yang esensial dari pembelajaran adalah
1. Membimbing
untuk menerima stimulus
2. Memperlancar
pengkodean
3. Memperlancar
penyimpanan dan retrival.
Melihat dari komponen tersebut sudah pasti ketiganya merupakan suatu satu
kesatuan yang harus dilakukan secara berutan dan akan selalu mempengaruhi hasil
yang akan di dapat atau hasil belajar dari peserta didik itu sendiri.
1. Membimbing
peserta didik dalam penerimaan stimulus
Sistem memori dapat melakukan proses seleksi atas stimulus-stimulus yang
akan diperhatikannya, ini juga dapat dikatakan bahwa sistem memori manusia
memiliki suatu aplikasi filterasi terhadap stimulus-stimulus yang di
perhatikannya. Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan berkaitan dengan
memberikan bimbingan perhatian peserta didik terhadap penerimaan stimulus
antara lain:
a.
Memusatkan perhatian ke stimulus-stimulus tertentu yang
di pilih. Dalam hal ini pendidik akan memberikan perhatian khusus terhadap
siswa mengenai stimulus-stimulus yang akan dipilih. Jadi dengan demikian
siswa/peserta didik akan lebih terkosentrasi pada stimulus yang telah
ditentukan.
b.
Mengenali secara awal stimulus dengan kode-kode
tertentu. Dalam pengenalan awal stimulus melalui pengkodean yaitu bagaimana
individu mengubah stimulus yang ada sehingga dapat di simpan dan pada waktu
yang lain dapat dimunculkan kembali dengan mudah. Dalam pengkodean ini akan
terjadi proses pengulangan dan menghubungkan dengan informasi lama yang sudah
tertanam dalam memori manusia.
Hal penting agar kegiatan menyajikan fokus adalah dengan memudahkan
peserta didik dalam menerima informasi yang cermat dan lengkap. Atau dengan
ungkapan lain apakah informasi yang diberikan itu diterima di dalam memori
kinirja peserta didik. Untuk memudahkan penerimaan informasi. untuk tujuan
behavioral dapat dilakukan dengan organise muka (advance organize), yaitu
merupakan konsep-konsep paying bagi bahan baru.
Tujuan dengan pemberian kerangka ini atau advance organize yaitu untuk
membantupeserta didik untuk mengetahui dan memperhatikan hal-hal penting dari
material atau bahan pelajaran yang baru. Adapun yang mengatakan bahwa advance
organizer juga berguna untuk memberikan kerangka konseptual untuk belajar.
Selain itu melalui advance organizer akan menjadi suatu penghubung antara
simpanan informasi peserta didik pada waktu sekarang dengan dengan belajar yang
baru. Melalui hal ini juga dapat di gunakan sebagai jembatan antara kognitif
lama dan struktur kognitif yang akan diperoleh, sehingga melalui advance
organizer dapat memperlancar proses mengkode pada peserta didik.
Membahas mengenai advance organizer, ada dua jenis organizer yaitu antara lain:
Membahas mengenai advance organizer, ada dua jenis organizer yaitu antara lain:
a.
Organizer Ekspositorik yaitu memberikan mekanisme untuk
membuat hubungan logis dalam materi baru. Dalam hal ini yang menjadi titik
pusatnya adalah bagaimana membuat hubungan yang singkron/ masuk akal antara
informasi yang di miliki peserta didik dengan informasi yang akan di peroleh saat
proses belajar.
b.
Organizer komparatif yaitu memberikan mekanisme untuk
menghunbungkan informasi yang baru dan tidak di kenal dengan pengetahuan yang
sudah ada. Dalam hal ini dapat diartikan juga bahwa melalui organizer ini,
peserta didik akan dibantu untuk memahami informasi yang sama sekali belum
dikenal dan belum ada pada informasi yang sudah dimilikinya. Hal ini akan di
lakukan oleh pendidik melalui pengenalan sederhana mengenai informasi baru
tersebut dan setelah itu akan diperinci. Selain dari pada itu pendidik juga
akan memberikan motivasi pada peserta didik agar mampu untuk memahami informasi
baru tersebut, motivasi yang di berikan dapat berupa data-data pendukung dan
penanaman rasa percaya diri kepada siswa bahwa ia mampu untuk mengkode dan memunculkan
kembali pada waktu yang berbeda (masa datang).
2. memperlancar
pengkodean
Pengkodean berfungsi untuk menyiapkan informasi baru untuk di simpan
kedalam memori jangka panjang.proses ini menghendaki adanya tranformasi
informasi menjadi kode ringkasan guna memudahkan dan mengingat kembali di waktu
kemudian mengenai informasi tersebut. Ada dua rancangan yang berbeda yang dapat
memudahkan pengkodean yaitu dengan memberikan pengisyaratan, elaborasi, dan
cara titian ingatan sebagai pembantu untuk menyusun sandi atau kode-kode guna
memudahkan dalam proses penyimpanan pada memori kerja peserta didik. Rancangan
ini disebut bantuan berbasis pembelajaran, contohnya: penggunaan sinonim untuk
kata-kata yang sulit pertanyaan ulangan, akronim untuk belajar asosiasi yang sifatnya
sembarang. Teknik yang kurang dikenal juga akan di lakukan pengkodean melalui
pemberian petunjuk yang dapat berupa judul paragraf atau kata-kata yang
berhubungan.
Rancangan yang lain adalah berfungsi untuk memberikan kesempatan bagi
terjadinya elaborasi(pengubahan) yang dihasilkan peserta didik, rancangan ini
disebut bantuan berbasis peserta didik. Dalam hal ini peserta didik diberikan
suatu kesempatan untuk mengubah atau melakukan peengubahan dengan caranya
sendiri terhadap informasi agar bagaimana mudah untuk di ingat dan melakukan
retrival (memunculkan kembali). Memperoleh Pada bantuan yang berbasis peserta
didik yaitu berupa pengisyaratan baik visual maupun verbal yang berasal dari
peserta didik itu sendiri, yang dapat membantunya belajar memperoleh asosiasi
yang sembarangsaja sifatnya misalnya; sebuah daftar, methode dan sebagainya.
3. memperlancar
penyimpanan dan retrival
Suatu taktik atau siasat pengkodean sangat penting karena hal ini dapat
meningkatkan kemampuan mengingat kembali pada waktu yang akan datang. Ini dapat
ditujukan berupa: irama bunyi,sajak, kata-kata pokok, citra visual dan
sebagainya, yang semuanya memberikan pengisyaratan untuk maksud retrival bagi
peserta didik dalam proses belajar. Elaborasi berbasis pembelajaran dan peserta
didik keduanya juga memberikan sumbangan yang besardalam proses mengingat
kembali terhadap informasi yang sudah tersimpan dalam memori menusia.
Proses pemunculan kembali apa yang telah tersimpan atau dsimpan dalam
memori manusia dianalogikan dengan mekanisme penelusuran. Maksud dari hal itu
juga dapat dikatakan bahwa retrival dikatakan sebagai suatu proses pemunculan
informasi yang tersimpan dalam long term memori ( ingatan jangka panjang)
melalui suatu penelusuran dan penyeleksian terhadap informasi yang akan
dimunculkan. Menanggapi penjelasan di atas Norman dan Bobrow, mengemukakan dua
tahapan dalam melaksanakan penelusuran, yaitu:
a.
Tahap pertama : menetapkan informasi yang diinginkan
atau yang ingin dimunculkan dari dalam ingatan (retrival). Berarti dalam tahap
ini individu melakukan suatu peenyeleksian terhadap informasi-informasi yang
ada pada memorinya dan memilih sesuai apa yang akan di munculkan.
b.
Tahap kedua : penelusuran yang sebenarnya yaitu dapat
dikatakan hal yang mencakup tindakan peninjauan kembali struktur ingatan dan
informasi-informasi yang terkait di dalamnya, sampai informai yang diinginkan
didapatkan atau di munculkan kembali.asumsi yang di pakai dalam hal ini adalah
bahwa ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan dan proses
penelusurannya bergerak secara herarkis, dari informasi yang paling umum dan
eksklusif ke informasi yang umum dan rinci, sampai pada informasi yang ingin
diinginkan atau di munculkan kembali dapat didapatkan oleh individu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada penjelasan-penjelasan di atas kami dapat menarik
beberapa kesimpulan antaranya:
1. Pengolahan
informasi mengandung pengertian tentang bagaimana seorang individu mempersepsi,
mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu
dari lingkungan.
2. Terdapat
tiga unsur struktur memori yaitu: Pencatatan penginderaan (Sensoric Memori),
Penyimpanan Jangka Pendek (working memory), dan Penyimpanan Jangka Panjang
(Long Term Memory).
3. Terdapat
tiga tahapan belajar dalam teoti pengolahan informasi yaitu; Perhatian ke
stimulus, Mengkode stimulus, dan memperlancar penyimpanan dan retrival.
B. Saran
Kami menyadari dalam penyusunan dan penjelasan yang ada di dalam makalah
ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Dan demi perbaikan makalah kami
selanjutnya kami mohon saran dan ktitik pembaca yang tentunya membangun.
Demikianlah hasil karya tulis kami yang terangkim dalam suatu makalah semoga
bermanfaat dan akhirnya kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Karwono, dan Heni
Mularsih. (2010). Belajar dan Pembelajaran
Serta Pemanfaatan SumberBelajar. Ciputat: Penerbit Cerdas Jaya
Muhibbin,
Syah. (2001). Psikologi belajar.
Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu
Rasyad, A. (2003).
Teori belajar dan pembelajaran.
Jakarta: Uhamka Press.
baca juga makalah profesi pendidikan antara profesi dan pekerjaan
baca juga makalah profesi pendidikan antara profesi dan pekerjaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar